FIVE PLUS, JAKARTA – USM2 Mencapai ATH Baru Dalam Sejarah.

USM2 atau United States M2 Money Supply adalah indikator penting yang mengukur jumlah uang beredar di AS, termasuk uang tunai, simpanan bank, hingga aset likuid lain seperti deposito jangka pendek. Angka ini sering dijadikan tolok ukur untuk melihat kondisi likuiditas ekonomi, yang bisa memengaruhi inflasi, pertumbuhan, hingga pergerakan aset berisiko seperti saham dan kripto.

Baru-baru ini, USM2 kembali mencatat All-Time High (ATH), menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan global.

Data terbaru menunjukkan USM2 mencapai $22,2 triliun, melampaui puncak sebelumnya pada Maret 2022. Pertumbuhan ini berlanjut sejak awal 2025, di mana pada Juli saja angka USM2 sudah menembus $21,94 triliun. Secara tahunan, pasokan uang meningkat 4,5% — level tertinggi dalam hampir tiga tahun.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Saat pandemi COVID-19, USM2 melonjak dari $15 triliun pada 2020 menjadi $21,4 triliun pada 2022 akibat stimulus fiskal dan pelonggaran moneter.

Kini, di tengah pemulihan ekonomi dan potensi pemotongan suku bunga The Fed, pasokan uang kembali meningkat tajam. Analis menilai, likuiditas berlebih ini berpotensi mendorong inflasi karena jumlah uang yang beredar tidak sebanding dengan ketersediaan barang dan jasa.

Kenaikan USM2 sering dikaitkan dengan tren bullish Bitcoin (BTC) dan aset kripto lain. Sejarah menunjukkan adanya korelasi positif: ketika USM2 naik, harga BTC juga cenderung menguat karena likuiditas tambahan mengalir ke aset berisiko.

Sebagai contoh, pada Juni 2025 USM2 berada di level $21,86 triliun, yang kemudian dianggap sebagai sinyal bullish untuk BTC. Beberapa analis bahkan memprediksi Bitcoin bisa mencapai $170.000, seiring likuiditas global yang menembus $95 triliun. Peningkatan pasokan uang juga bisa memperlemah dolar AS, mendorong investor mencari aset lindung nilai seperti emas dan BTC.

Meski memberi angin segar bagi pasar kripto, kenaikan USM2 juga menyimpan risiko. Lonjakan inflasi bisa memaksa Federal Reserve menaikkan kembali suku bunga, yang pada akhirnya menekan aset berisiko. Selain itu, jika likuiditas hanya terkonsentrasi di sektor tertentu seperti teknologi atau AI, pasar bisa lebih rentan terhadap gejolak.

Bagi investor kripto, kondisi ini tetap memberi peluang. Dengan pasokan uang yang terus meningkat, aliran dana ke BTC, ETH, dan altcoin lain bisa semakin besar, terutama bagi mereka yang melihat kripto sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

About Author

Five Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *